Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 September 2017

Kisah Syeichona Bangkalan

*Syaichona Cholil Bangkalan dan Si Penanya.*
.
Pernah ada orang yang datang dan menanyakan bagaimana hukum makan dengan menggunakan sendok kepada Syaichona Cholil Bangkalan.
.
Ketika itu Syaichona Cholil Bangkalan menjawab seraya mengutip nazam _Alfiah_ yang artinya sebagai berikut:
_"Dalam suatu ungkapan yang masih bisa menggunakan dhamir muttasil (kata ganti yang sambung), tidak diperbolehkan menggunakan dhamir munfasil (kata ganti yang terpisah)."_
.
Dengan mengutip nazam _Alfiah_ tersebut, secara tidak langsung Syaichona Cholil Bangkalan memberikan jawaban kepada si penanya bahwa makan dengan menggunakan tangan lebih baik daripada makan dengan sendok. Selagi masih memungkinkan makan dengan menggunakan tangan yang dapat secara langsung menyentuh makanan yang akan dimakan - mengapa harus menggunakan sendok?

*Syaichona Cholil Bangkalan dan Orang yang Menyendiri. #2*
.
Ketika hendak pulang, mereka sama-sama bersalaman seraya menyelipkan lembaran uang untuk diberikan kepada Syaichona Cholil Bangkalan, kecuali satu orang yang terlihat Menyendiri dari rombongan dengan rona muka yang agak malu-malu. Rupanya orang tersebut tidak punya uang. Mengetahui hal itu, Syaichona Cholil Bangkalan mengutip nazam _Alfiah_ yang artinya:
_"Bila kabar itu berupa isim mufrad jamid, maka tidak boleh mengandung dhamir. Dan bila kabar itu berupa isim mufrad musytaq, maka harus mengandung dhamir yang tersimpan."_
.
Melalui nazam _Alfiah_ tersebut, Syaichona Cholil Bangkalan ingin menyampaikan bahwa sekiranya orang itu memliki uang, tentunya dia akan _nyungkem_ (bersalaman seraya menyelipkan uang) kepadanya. Namun karena tak memiliki uang, maka dia terlihat Menyendiri dari rombongan dengan rona muka yang malu-malu.

Syair Arab mengatakan yang artinya:
_"Orang-orang yang berilmu akan tetap hidup selamanya meski telah meninggal dan tulang belulangnya telah lebur dan hancur."_
.
Menurut Al-Imanurrohmatullah Syahriyat, sesungguhnya seorang kekasih Allah itu tidak wafat, melainkan hanya _sare rogo_ (tidur di liang lahatnya) dan masih mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah [2] ayat 154 yang artinya,

_"Dan janganlah kamu *mengatakan* terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."_

Read More ->>

Kiyai Umar Bin Abdul Mannan Mangkuyudan

Mahbib, NU Online |

Di antara maziyyah, keistimewaan Kiai Umar bin Abdul Manan, Mangkuyudan, Solo adalah kepiawaiannya membawa diri sehingga dapat menjaga perasaan orang lain dengan cara-cara yang indah. Dari keluarga, tamu, santri, tetangga, orang miskin, kaya, pejabat, rakyat, muslim atau nonmuslim semua dihormati Kiai Umar dengan baik. 

Dalam Ad Durrul Mukhtar, sebuah buku karya KH Ahmad Baedlowie Syamsuri yang mengisahkan manaqib Kiai Umar diceritakan bahwa Kiai Umar adalah orang yang rutin menjalankan puasa sunnah Syawal selama 6 hari dengan dimulai setiap tanggal 2 Syawal. Padahal, di sisi lain, hari-hari seperti itu Kiai Umar juga sedang open house, tamu dari berbagai daerah sedang banyak berdatangan dengan keperluan silaturahim, sowan Lebaran. 

Namun, bagaimana sikap para tamu ketika mereka mengetahui bahwa tuan rumah yang didatangi dalam keadaan puasa? Hampir bisa dipastikan mereka tak akan leluasa menyantap sajian yang sudah berada di depan mata. Siapa pun tamunya, bukankah ini merupakan sedikit rintangan?

Namun Kiai Umar tidak kekurangan cara supaya para tamu dapat menikmati hidangan tanpa mereka sadar bahwa kiai sedang berpuasa. Kiai Umar selalu menyiapkan setengah gelas air minum yang disajikan di hadapannya. 

Sewaktu kiai mempersilahkan para tamu untuk menikmati sajian ataupun minuman “monggo-monggo, silahkan!”, Kiai Umar juga sembari mengangkat gelas yang telah disiapkan dengan menyentuhkan bibir gelas yang ia pegang naik ke atas hingga menempel pada bibir kiai. Dengan begitu, tak ada tamu yang merasa bahwa kiai adalah orang yang berpuasa. Mereka juga tak ada yang sadar bahwa air setengah gelas yang di hadapan kiai hanyalah air fantasi saja. Yang mengetahui ini hanyalah keluarga atau orang-orang terdekatnya saja.

Beginilah di antara potret orang yang mengikuti sunah-sunah Nabi dengan cara elegan dan berhati-hati. Tidak hanya berhenti pada boleh atau tidak boleh menurut kacamata syari’at, tapi adab dan tata adat masyarakat juga selalu mereka pegang dengan kuat. 

Di sini, minimal dapat ambil pelajaran. Pertama, bahwa Kiai Umar adalah pengamal puasa sunah 6 hari di bulan Syawal di mana pahalanya sama dengan puasa setahun penuh. Kedua, Kiai Umar adalah orang yang hormat kepada tamu dengan penghormatan yang istimewa. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad, yang artinya “Barangsiapa iman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. (Ahmad Mundzir)

Read More ->>

Rabu, 29 Maret 2017

Kisah Sayyid Alwi Bin Abbas Al-Maliky Dengan Ulama Wahabi

KISAH ULAMA WAHABI & ABUYA SAYYID ALWI BIN ABBAS AL MALIKI AL HASANI

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin – Ulama Wahabi kontemporer yang sangat populer – mempunyai seorang guru yang sangat alim dan kharismatik di kalangan kaum Wahhabi, yaitu Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di, yang dikenal dengan julukan Syaikh Ibnu Sa’di.

Ia memiliki banyak karangan, di antaranya yang paling populer adalah karyanya yang berjudul, Tafsir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, kitab tafsir setebal 5 jilid, yang mengikuti manhaj pemikiran Wahhabi. Meskipun Syaikh Ibnu Sa’di, termasuk ulama Wahabi yang ekstrim, ia juga seorang ulama yang mudah insyaf dan mau mengikuti kebenaran, dari manapun kebenaran itu datangnya.

Suatu ketika, al-Imam al-Sayyid ‘Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani (ayahanda Abuya al-Sayyid Muhammad bin ‘Alwi al-Maliki) sedang duduk-duduk di serambi Masjid al-Haram bersama halaqoh pengajiannya. Sementara di bagian lain serambi Masjidil Haram tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di juga duduk-duduk. Sementara orang-orang di Masjidil Haram larut dalam ibadah sholat dan thowaf yang mereka lakukan.

Pada saat itu, langit di atas Masjidil Haram penuh dengan mendung yang menggelantung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan yang sangat lebat. Tiba-tiba air hujan itu pun turun dengan lebatnya. Akibatnya, saluran air di atas Ka’bah mengalirkan airnya dengan derasnya. Melihat air begitu deras dari saluran air di atas kiblat kaum Muslimin yang berbentuk kubus itu, orang-orang Hijaz seperti kebiasaan mereka, segera berhamburan menuju saluran itu dan mengambil air tersebut, dan kemudian mereka tuangkan ke baju dan tubuh mereka, dengan harapan mendapatkan berkah dari air itu.

Melihat kejadian tersebut, para polisi pamong praja Kerajaan Saudi Arabia, yang sebagian besar berasal dari orang Badui daerah Najd itu, menjadi terkejut dan mengira bahwa orang-orang Hijaz tersebut telah terjerumus dalam lumpur kesyirikan dan menyembah selain Alloh SWT. Akhirnya para polisi pamong praja itu berkata kepada orang-orang Hijaz yang sedang mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air Ka’bah itu,

“Jangan kalian lakukan wahai orang-orang musyrik. Itu perbuatan syirik. Itu perbuatan syirik.”

Mendengar teguran para polisi pamong praja itu, orang-orang Hijaz itu pun segera berhamburan menuju halaqoh al-Imam al-Sayyid ‘Alwi al-Maliki al-Hasani dan menanyakan perihal hukum mengambil berkah dari air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu. Ternyata Sayyid ‘Alwi membolehkan dan bahkan mendorong mereka untuk melakukannya. Akhirnya untuk yang kedua kalinya, orang-orang Hijaz itu pun berhamburan lagi menuju saluran air di Ka’bah itu, dengan tujuan mengambil berkah air hujan yang jatuh darinya, tanpa mengindahkan teguran para polisi Badui tersebut. Bahkan mereka berkata kepada para polisi baduwi itu,

“Kami tidak akan memperhatikan teguran Anda, setelah Sayyid ‘Alwi berfatwa kepada kami tentang kebolehan mengambil berkah dari air ini.”

Akhirnya, melihat orang-orang Hijaz itu tidak mengindahkan teguran, para polisi Badui itu pun segera mendatangi halaqoh Syaikh Ibnu Sa’di, guru mereka. Mereka mengadukan perihal fatwa Sayyid ‘Alwi yang menganggap bahwa air hujan itu ada berkahnya. Akhirnya, setelah mendengar laporan para polisi Badui, yang merupakan anak buahnya itu, Syaikh Ibnu Sa’di segera mengambil selendangnya dan bangkit menghampiri halaqoh Sayyid ‘Alwi dan duduk di sebelahnya. Sementara orang-orang dari berbagai golongan, berkumpul mengelilingi kedua ulama besar itu. Dengan penuh sopan dan tata krama layaknya seorang ulama, Syaikh Ibnu Sa’di bertanya kepada Sayyid ‘Alwi:

“Wahai Sayyid, benarkah Anda berkata kepada orang-orang itu bahwa air hujan yang turun dari saluran air di Ka’bah itu ada berkahnya?”

Sayyid ‘Alwi menjawab:

“Benar. Bahkan air tersebut memiliki dua berkah.”

Syaikh Ibnu Sa’di berkata:

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Sayyid ‘Alwi menjawab:

“Karena Alloh SWT berfirman dalam Kitab-Nya tentang air hujan:

وَنَزَّلْنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءًۭ مُّبَرَكًۭا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang mengandung berkah.” (QS. 50:9).

Alloh SWT juga berfirman mengenai Ka’bah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍۢ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِى بِبَكَّةَ مُبَارَكًۭا وَهُدًۭى لِّلْعَلَمِينَ (٩٦
“Sesungguhnya rumah yang pertama kali diletakkan bagi umat manusia adalah rumah yang ada di Bekkah (Makkah), yang diberkahi (oleh Alloh).” (QS. 3:96).

Dengan demikian air hujan yang turun dari saluran air di atas Ka’bah itu memiliki dua berkah, yaitu berkah yang turun dari langit dan berkah yang terdapat pada Baitullah ini.”

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di merasa heran dan kagum kepada Sayyid ‘Alwi. Kemudian dengan penuh kesadaran, mulut Syaikh Ibnu Sa’di itu melontarkan perkataan yang sangat mulia, sebagai pengakuannya akan kebenaran ucapan Sayyid ‘Alwi:

“Subhanallah (Maha Suci Alloh), bagaimana kami bisa lalai dari kedua ayat ini.”

Kemudian Syaikh Ibnu Sa’di mengucapkan terima kasih kepada Sayyid ‘Alwi dan meminta izin untuk meninggalkan halaqoh tersebut. Namun Sayyid ‘Alwi berkata kepada Syaikh Ibnu Sa’di:

“Tenang dulu wahai Syaikh Ibnu Sa’di. Aku melihat para polisi Badui itu mengira bahwa apa yang dilakukan oleh kaum Muslimin dengan mengambil berkah air hujan yang mengalir dari saluran air di Ka’bah itu sebagai perbuatan syirik. Mereka tidak akan berhenti mengkafirkan orang dan mensyirikkan orang dalam masalah ini sebelum mereka melihat orang yang seperti Anda melarang mereka. Oleh karena itu, sekarang bangkitlah Anda menuju saluran air di Ka’bah itu, lalu ambillah air di situ di depan para polisi Badui itu, sehingga mereka akan berhenti mensyirikkan orang lain.”

Akhirnya mendengar saran Sayyid ‘Alwi tersebut, Syaikh Ibnu Sa’di segera bangkit menuju saluran air di Ka’bah. Ia basahi pakaiannya dengan air itu, dan ia pun mengambil air itu untuk diminumnya dengan tujuan mengambil berkahnya. Melihat tingkah laku Syaikh Ibnu Sa’di ini, para polisi Badui itu pun pergi meninggalkan Masjidil Haram dengan perasaan malu.

Semoga Alloh SWT merahmati Sayyidina al-Imam ‘Alwi bin ‘Abbas al-Maliki al-Hasani. Amin.

Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul Fattah Rawwah, Ulama Mesir dalam kitab Tsabat (kumpulan sanad-sanad keilmuannya). Beliau termasuk salah seorang saksi mata kejadian itu.

Read More ->>

Rabu, 22 Maret 2017

Imam Al-Khotib Berkata Dalam Syairnya

*Imam Al Khotib Al Baghdadi*

* ﺇﺫﺍ ﺍﻋﺘﻠﻠﺖ ﻓﻜﺘﺐ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺗﺸﻔﻴﻨﻲ  *  ﻓﻴﻬﺎ ﻧﺰ ﺍﻫﺔ ﺍﻟﺤﺎﻇﻲ ﻭﺗﺰﻳﻴﻨﻲ *

_Apabila aku sakit maka kitab-kitab ilmu dapat menyembuhkanku *** Di dalamnya terdapat kesenangan pandangan dan perhiasanku._

* ﺇﺫﺍ ﺍﺷﺘﻜﻴﺖ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﺍﻟﻬﻢ ﻣﻦ ﺣﺰﻥ  *  ﻣﺎﻟﺖ ﺇﻟﻲ ﺗﻌﺰﻳﻨﻲ ﻭ ﺗﺴﻠﻴﻨﻲ *

_Apabila keluhan rasa sedih dan gundah terasa olehku *** Ia akan menuju kepadaku untuk berbelasungkawa dan menghiburku._

* ﺣﺴﺒﻲ ﺍﻟﺪﻓﺎﺗﺮ ﻣﻦ ﺩﻧﻴﺎ ﻗﻨﻌﺖ ﺑﻬﺎ  *  ﻻ ﺃﺑﺘﻐﻲ ﺑﺪﻻ ﻣﻨﻬﺎ ﻭﻣﻦ ﺩﻳﻨﻲ *

_Cukuplah kitab-kitab itu bagiku dari dunia yang aku telah puas dengannya *** Aku tidak ingin mencari penggantinya dan tidak pula aku mengganti agama._

Sumber : Taqyidul 'Ilmi Lil-Khothib Al-Baghdadi

Read More ->>

Rabu, 15 Maret 2017

Kebesaran Imam Syafi'i

*Imam Syafii*

Dalam sebuah Hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda : ada seorang Alim dari bangsa Quraish yang ilmunya akan memenuhi bumi.

Para Ulama', termasuk diantaranya adalah Imam Ahmad bin Hambal menyatakan bahwa yang dimaksud orang Alim dalam Hadits tersebut adalah Imam Syafii.

Disebutkan bahwa beliau selalu membagi malamnya menjadi 3 bagian :
- Bagian pertama : untuk ilmu.
- Bagian kedua : untuk Shalat.
- Bagian ketiga untu istirahat.

Beliau selalu meng-Hatamkan Al-Qur'an dalam setiap harinya, dan dalam bulan Ramadhan beliau mengahatamkan dalam sehari sebanyak 2 kali.

Beliau pernah berkata bahwa beliau tidak pernah kenyang sejak 16 tahun, sebab kenyang itu menurut beliau dapat menyebabkan :
- Badan terasa berat untuk beraktivitas.
- Hati bisa menjadi semakin keras.
- Dapat menghilangkan kecerdasan.
- Menyebabkan ngantuk.
- Mengendorkan seseorang untuk beribadah.

Beliau juga tidak pernah bersumpah, baik untuk kejujuran, apalagi untuk kebohongan.

Beliau pernah ditanya mengenai 1 permasalahan, kemudian beliau terdiam. Maka beliau ditanya : mengapa engkau tidak menjawabnya? Maka beliau berkata : aku tidak akan menjawabnya sehingga aku mengetahui mana yang lebih utama bagiku, apakah menjawab atau diam saja.

Beliau termasuk orang yang doanya selalu dikabulkan, sebab beliau belum pernah terlihat melakukan dosa kecil, apalagi dosa besar.

حاشية إعانة الطالبين ج ١ ص ٣٣
وعليه حمل الحديث المشهور: عالم قريشيملأ طباق الأرض علما.
لأن الكثرة والانتشار في جميع الأقطار لم يحصلا في عالم قرشي مثله.
قال الأئمة ومنهم الإمام أحمد: هذا العالم هو الشافعي.
وكان رضي الله عنه يقسم الليل على ثلاثة أقسام، ثلث للعلم، وثلث للصلاة، وثلث للنوم.
ويختم القرآن في كل يوم مرة، ويختم في رمضان ستين مرة، كل ذلك في الصلاة.
وكان رضي الله عنه يقول: ما شبعت منذ ست عشرة سنة، لأنه يثقل البدن ويقسي القلب ويزيل الفطنة ويجلب النوم ويضعف صاحبه عن العبادة.
وما حلفت بالله في عمري، لاكاذبا ولا صادقا.
وسئل رضي الله عنه عن مسألة فسكت، فقيل له: لم لا تجيب؟ فقال: حتى أعلم، الفضل في سكوتي أو في جوابي.
وكان رضي الله عنه مجاب الدعوة، لا تعرف له كبيرة ولا صغيرة

Read More ->>

Selasa, 14 Maret 2017

Manaqib Al Habib Abu Bakar Gresik

SEBAGIAN DARI MANAQIB / BIOGRAFI AL-QUTHB AL-HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD ASSEGAF - GRESIK
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
TABARRUKAN ( MENGAMBIL BAROKAH DARI BELIAU )
Beliau adalah Al-Imam al-Quthbul Fard al-Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar bin Abu Bakar bin Al-Habib Umar bin Segaf as-Segaf (seorang imam di lembah Al-Ahqof).
Garis keturunan beliau yang suci ini terus bersambung kepada ulama dari sesamanya hingga bermuara kepada pemuka orang-orang terdahulu, sekarang dan yang akan datang, seorang kekasih nan mulia Nabi Muhammad S.A.W. Beliau terlahir di kampung Besuki
(salah satu wilayah di kawasan Jawa Timur) tahun 1285 H. Ayahanda beliau ra. wafat di kota Gresik, sementara beliau masih berumur kanak-kanak.
Sungguh al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf tumbuh besar dalam asuhan dan penjagaan yang sempurna. Cahaya kebaikan dan kewalian telah tampak dan terpancar dari kerut-kerut wajahnya, sampai-sampai beliau R.a di usianya ke-3 tahun mampu mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi pada dirinya. Semua itu tak lain karena kekuatan dan kejernihan rohani beliau, serta kesiapannya untuk menerima curahan anugerah dan Fath (pembuka tabir hati) darinya.
Pada tahun 1293 H, atas permintaan nenek beliau yang sholehah Fatimah binti Abdullah (Ibunda ayah beliau), beliau merantau ditemani oleh al-Mukaram Muhammad Bazamul ke Hadramaut meninggalkan tanah kelahirannya Jawa.
Di kala al-Habib Abu Bakar bin Muhammad as-Segaf akan sampai di kota Sewun, beliau di sambut di perbatasan kota oleh paman sekaligus guru beliau al-Allamah Abdullah bin Umar berikut para kerabat. Dan yang pertama kali dilantunkan oleh sang paman bait qosidah al-Habib al-Arifbillah Syeh bin Umar bin Segaf seorang yang paling alim di kala itu dan menjadi kebanggaan pada jamannya.
Dan ketika telah sampai beliau dicium dan dipeluk oleh pamannya. Tak elak menahan kegembiraan atas kedatangan sang keponakan dan melihat raut wajahnya yang memancarkan cahaya kewalian dan kebaikan berderailah air mata kebahagiaan sang paman membasahi pipinya.
"Hati para kaum arifin memiliki ketajaman pandang.
Mampu melihat apa yang tak kuasa dilihat oleh pemandang".
Sungguh perhatian dan didikan sang paman telah membuahkan hasil yang baik pada diri sang keponakan. Beliau belajar kepada sang paman al-Habib Abdullah bin Umar ilmu fiqh dan tasawuf, sang paman pun suka membangunkannya pada akhir malam ketika beliau masih berusia kanak-kanak guna menunaikan shalat tahajjud bersama-sama.
Al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mempunyai hubungan yang sangat kuat dalam menimba ilmu dari para ulama dan pemuka kota Hadramaut. Sungguh mereka (para ulama) telah mencurahkan perhatiannya pada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Maka beliau ra. Banyak menerima dan memperoleh ijazah dari mereka.
Diantara para ulama terkemuka Hadramaut yang mencurahkan perhatiannya kepada beliau, adalah al-Imam al-Arifbillah al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi - Shohibul Maulid (seorang guru yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf).
Sungguh Habib Ali telah menaruh perhatiannya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf semenjak beliau masih berdomisili di Jawa sebelum meninggalkannya menuju Hadramaut.
Al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi berkata kepada salah seorang murid seniornya :
"Perhatikanlah! Mereka bertiga adalah para wali, nama, haliyah, dan maqom (kedudukan) mereka sama. Yang pertama adalah penuntunku nanti di alam barzakh, beliau adalah Quthbul Mala al-Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Aidrus, yang kedua, aku melihatnya ketika engkau masih kecil beliau adalah al-Habib al-Ghoust Abu Bakar bin Abdullah al-Atthos, dan yang ketiga engkau akan melihat sendiri nanti di akhir dari umurmu".
Maka tatkala memasuki tahun terakhir dari umurnya, ia bermimpi melihat Rosulullah SAW sebanyak lima kali berturut-turut selama lima malam, sementara setiap kali dalam mimpi Beliau SAW mengatakan kepadanya (orang yang bermimpi) :
"Lihatlah di sampingmu, ada cucuku yang sholeh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf"!
Sebelumnya, orang yang bermimpi tersebut tidak mengenal al-Habib Abu Bakar Assegaf kecuali setelah dikenalkan oleh Baginda Rosul al-Musthofa SAW didalam mimpinya.
Lantas ia teringat akan ucapan al-Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi dimana beliau pernah berkata :
"Mereka bertiga adalah para wali, nama dan kedudukan mereka sama". Setelah itu ia (orang yang bermimpi) menceritakan mimpinya kepada al-Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dan tidak lama kemudian ia pun meninggal dunia.
Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf mendapat perhatian khusus dan pengawasan yang istimewa dari gurunya al Habib Ali bin Muhammad al-Habsyi sampai-sampai Habib Ali sendiri yang meminangkan beliau dan sekaligus menikahkannya.
Selanjutnya (diantara para Masyayikhnya) adalah al Allamah al Habib Abdullah bin Umar Assegaf sebagai syaikhut tarbiyah.
Al Imam al Quthb al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi sebagai syaikhut taslik.
Juga al Mukasyif al Habib Abdul Qadir bin Ahmad bin Quthban sebagai syaikhul fath.
Guru yang terakhir ini sering memberi berita gembira kepada beliau :
"Engkau adalah pewaris haliyah kakekmu al Habib Umar bin Segaf".
Sekian banyak para ulama para wali dan para kaum sholihin Hadramaut baik itu yang berasal dari Sewun, Tarim dan lain-lain yang menjadi guru al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, seperti :
- al Habib Muhammad bin Ali Assegaf,
- al Habib Idrus bin Umar al-Habsyi,
- al Habib Ahmad bin Hasan al-Atthas,
- al Habib Abdurrahman al-Masyhur,
- juga putera beliau al Habib Ali bin Abdurrahman al-Masyhur,
- dan juga al Habib Syekh bin Idrus al-Idrus
dan masih banyak lagi guru beliau yang lainnya.
Pada tahun 1302 H, ditemani oleh al Habib Alwi bin Segaf Assegaf al Habib Abu Bakar Assegaf pulang ketanah kelahirannya (Jawa) tepatnya di kampung Besuki.
Selanjutnya pada tahun 1305 H, ketika itu beliau berumur 20 tahun beliau pindah ke kota Gresik sambil terus menimba ilmu dan meminta ijazah dari para ulama yang menjadi sinar penerang negeri pertiwi Indonesia, sebut saja :
- al Habib Abdullah bin Muhsin al-Atthas,
- al Habib Abdullah bin Ali al-Haddad,
- al Habib Ahmad bin Abdullah al-Atthas,
- al Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya,
- al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi,
- al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdlar, dan lain sebagainya.
Kemudian pada tahun 1321 H, tepatnya pada hari jum'at ketika sang khatib berdiri diatas mimbar beliau r.a mendapat ilham dari Allah SWT bergeming dalam hatinya untuk mengasingkan diri dari manusia semuanya.
Terbukalah hati beliau untuk melakukannya, seketika setelah bergeming beliau keluar dari masjid jami' menuju rumah kediamannya. Beliau al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf ber-uzlah atau khalwat (mengasingkan diri) dari manusia selama lima belas tahun bersimpuh dihadapan Ilahi Rabbi.
Dan tatkala tiba saat Allah mengizinkan beliau untuk keluar dari khalwatnya, guru beliau al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi mendatanginya dan memberi isyarat kepada beliau untuk mengakhiri masa khalwatnya, al Habib Muhammad al-Habsyi berkata :
"selama tiga hari kami bertawajjuh dan memohon kepada Allah agar Abu Bakar bin Muhammad Assegaf keluar dari khalwatnya".
Lantas beliau menggandeng al Habib Abu Bakar Assegaf dan mengeluarkannya dari khalwatnya.
Kemudian masih ditemani al Habib Muhammad al-Habsyi beliau r.a menziarahi al Habib Alawi bin Muhammad Hasyim, sehabis itu langsung berangkat ke kota Surabaya menuju ke kediaman al Habib Abdullah bin Umar Assegaf.
Sambil menunjuk kepada al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf al Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi memproklamirkan kepada para hadirin :
"Ini al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf termasuk murtiara berharga dari simpanan keluarga Ba 'Alawi, kami membukanya agar bisa menularkan manfaat bagi seluruh manusia".
Setelah itu beliau membuka majlis ta'lim dirumahnya, beliau menjadi pengayom bagi mereka yang berziarah juga sebagai sentral (tempat rujukan) bagi semua golongan diseluruh penjuru, siapa pun yang mempunyai maksud kepada beliau dengan dasar husnudzhon (sangka baik) niscaya ia akan meraih keinginannya dalam waktu yang relatif singkat.
Di rumah beliau sendiri, al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf telah menghatamkan kitab Ihya' Ulumuddin lebih dari 40 kali. Pada setiap kali hatam beliau selalu menghidangkan jamuan yang istimewa. al Habib Abu Bakar Assegaf betul-betul memiliki ghirah (antusias/semangat) yang besar dalam menapaki aktivitas dan akhlaq para aslaf (pendahulunya), terbukti dengan dibacanya dalam majlis beliau sejarah dan kitab-kitab buah karya para aslafnya.
Adapun maqom (kedudukan) al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf, beliau telah mencapai tingkat Shiddiqiyah Kubro. Hal itu telah diakui dan mendapat legitimasi dari mereka yang hidup sezaman dengan beliau. Berikut ini beberapa komentar dari mereka :
★ al Imam al Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhor berkata :
"Demi fajar dan malam yang sepuluh dan yang genap dan yang ganjil. Sungguh al Akh Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah mutiara keluarga Segaf yang terus menggelinding (maqomnya) bahkan membumbung tinggi menyusul maqom-maqom para aslafnya".
★ Al Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad berkata:
"Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang Quthb al Ghaust juga sebagai tempat turunnya pandangan (rahmat) Allah SWT".
★ Al Arif billah al Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi pernah berkata di rumah al Habib Abu Bakar Assegaf dikala beliau membubuhkan tali ukhuwah antara beliau dengan al Habib Abu Bakar Assegaf, pertemuan yang diwarnai dengan derai air mata. Habib Ali berkata kepada para hadirin ketika itu :
"Lihatlah kepada saudaraku fillah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf. Lihatlah ia..! Maka melihat kepadanya termasuk ibadah"
★ Al Habib Husein bin Muhammad al-Haddad berkata,
"Sesungguhnya al Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf adalah seorang khalifah. Beliau adalah penguasa saat ini, belia telah berada pada Maqom as Syuhud yang mampu menyaksikan (mengetahui) hakekat dari segala sesuatu. Beliau berhak untuk dikatakan "Dia hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya (sebagai nikmat)".
Majlis beliau senantiasa penuh dengan mudzakarah dan irsyad menuju jalan para pendahulunya. Majlis beliau tak pernah kosong dari pembacaan kitab- kitab mereka.
Inilah perhatian beliau untuk tetap menjaga thoriqah salafnya dan berusaha berjalan diatas… qadaman ala qadamin bi jiddin auza’i.
Itulah yang beliau lakukan semasa hayatnya, mengajak manusia kepada kebesaran Ilahi.
Waktu demi waktu berganti, sampai kepada suatu waktu dimana Allah memanggilnya. Disaat terakhir dari akhir hayatnya, beliau melakukan puasa selama 15 hari, dan setelah itu beliau pun menghadap ke haribaan Ilahi.
Beliau wafat pada tahun 1376 H pada usia 91 tahun. Jasad beliau disemayamkan di sebelah masjid Jami, Gresik..
ILAA HADROTI AL-HABIB ABU BAKAR BIN MUHAMMAD AS-SEGAF - GRESIK...AL-FAATIHAH..

Read More ->>

About Me

maqolun náhihuin
Lihat profil lengkapku